KUDUS – Halo, Sahabat Masjid Darul Ilmi UMK! Apa kabar tugas-tugas yang menumpuk? Semoga tetap semangat ya! Di tengah kesibukan dunia kampus yang kadang bikin penat, pernah nggak sih kalian membayangkan sebuah perjalanan healing yang jauh melampaui ekspektasi? Bukan ke Bali atau luar negeri, tapi menembus batas langit!
Ya, bulan Rajab ini kita kembali diingatkan pada peristiwa paling mind-blowing dalam sejarah manusia: Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ini bukan sekadar dongeng masa kecil, gaes, tapi sebuah peristiwa nyata yang mengguncang logika dan menjadi booster keimanan kita.
Yuk, kita bedah peristiwa dahsyat ini dengan kacamata iman dan intelektual ala mahasiswa UMK!
Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu
Isra’ Mi’raj itu ibarat perjalanan dinas super kilat yang dianugerahkan Allah kepada Kekasih-Nya. Bayangkan, di zaman belum ada pesawat jet atau roket SpaceX, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan ribuan kilometer dan menembus tujuh lapis langit hanya dalam satu malam!
Isra’ adalah perjalanan horizontal dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina). Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan vertikal, naik dari bumi menuju Sidratul Muntaha, level tertinggi di mana bahkan Malaikat Jibril pun tak bisa melangkah lebih jauh.
Allah SWT mengabadikan peristiwa epic ini sebagai “headline news” langit di dalam Al-Qur’an:
”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini dibuka dengan kata “Subhana” (Maha Suci Allah), yang menurut para ahli tafsir, menunjukkan bahwa peristiwa yang akan diceritakan setelahnya adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan di luar jangkauan akal manusia biasa.
Kata Ulama Salaf: Ini Nyata, Bukan Mimpi!
Mungkin ada yang berpikir, “Ah, itu paling cuma mimpi indah Nabi aja kali?” Eits, tunggu dulu. Para ulama kita sejak dulu sudah membahas ini dengan tuntas.
Mari kita buka kitab kuning. Salah satu ulama besar, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab fenomenalnya, Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, menegaskan pendapat mayoritas ulama salaf:
”Bahwasanya Isra’ itu terjadi dengan jasad dan ruh Rasulullah SAW secara bersamaan pada satu malam, dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa)… kemudian beliau dimi’rajkan (dinaikkan) dari Baitul Maqdis ke langit dunia, lalu ke langit-langit berikutnya sampai ke Sidratul Muntaha.”
Jadi clear ya, ini perjalanan fisik dan spiritual yang real! Bukan sekadar lucid dream. Ini menunjukkan betapa “canggihnya” kekuasaan Allah yang melipat dimensi waktu dan jarak.
Kacamata Akademik: Menalar yang Tak Masuk Akal?
Nah, bagi kita kaum intelektual kampus, peristiwa ini tentu memantik rasa penasaran ilmiah. Bagaimana sains dan penelitian memandang fenomena transendental (melampaui batas pengalaman biasa) seperti ini?
Sebuah penelitian menarik yang diterbitkan dalam International Journal of Nusantaric Islamic Studies (2020) mencoba menganalisis peristiwa Isra’ Mi’raj dari perspektif filosofis dan psikologis. Studi tersebut menyoroti bahwa Mi’raj adalah puncak dari pengalaman spiritual manusia.
Penelitian terdahulu (misalnya dalam studi Psychology of Religion) sering membahas tentang Peak Experiences atau pengalaman puncak. Dalam konteks Isra’ Mi’raj, ini bukan sekadar pengalaman psikologis biasa, melainkan sebuah transformasi kesadaran total. Bagi seorang Nabi, ini adalah validasi tertinggi atas kenabiannya.
Bagi kita mahasiswa, peristiwa ini mengajarkan bahwa untuk meraih “ketinggian” (kesuksesan, ilmu, derajat), kita butuh koneksi kuat dengan Yang Maha Tinggi. Logika manusia terbatas, tapi kuasa Allah tanpa batas. Isra’ Mi’raj menantang kita untuk tidak hanya mengandalkan rasio, tapi juga memperluas kapasitas iman.
Oleh-Oleh Paling Berharga: Shalat 5 Waktu!
Poin paling penting dari “perjalanan dinas” ini adalah oleh-olehnya buat kita semua. Bukan gantungan kunci atau kaos, tapi perintah langsung dari Allah SWT: Shalat Fardhu Lima Waktu.
Dalam Hadis Riwayat Muslim, diceritakan proses “negosiasi” jumlah rakaat shalat yang awalnya 50 kali sehari menjadi 5 kali sehari berkat saran Nabi Musa AS kepada Nabi Muhammad SAW. Bayangkan kalau jadi 50 kali, kapan kita ngerjain skripsinya? Hehe.
Ini menunjukkan betapa sayangnya Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Shalat 5 waktu ini adalah “Mi’raj”-nya orang mukmin. Kalau kita lagi stuck sama tugas kuliah, lagi galau masalah organisasi, atau butuh ketenangan, bentangkan sajadah. Itu adalah direct line kita untuk “curhat” ke Langit.
Yuk, Mi’raj-kan Semangat Kita di UMK!
Sahabat Darul Ilmi, peringatan Isra’ Mi’raj ini jangan cuma jadi seremonial tahunan aja. Mari jadikan momen ini sebagai titik balik untuk meng- upgrade kualitas diri.
Jadikan Masjid Darul Ilmi sebagai “landasan pacu” spiritual kita sebelum terbang tinggi meraih prestasi akademik di UMK. Jangan lupa, kalau pondasi shalat kita kuat, insyaAllah bangunan kesuksesan kita di dunia kampus juga bakal kokoh.
Selamat memperingati Isra’ Mi’raj! Stay connected with Allah, stay awesome on campus!
(Tim Redaksi Media Masjid Darul Ilmi UMK)